Laman
Senin, 26 Maret 2012
Jumat, 24 Februari 2012
Proses Arsitektur ‘Chard’ (Pro + Ars + Cha)
Jangan terperangah dengan
bentuk sebab bentuk tak selamanya menentukan isi. Tampilan belum selalu
membenarkan kepuasan. Apa yang keluar dari otak adalah sesuatu yang tak pernah
sama dari detik ke detik. Jangan pernah menganggap kejahatan berpikir sebagai
kebusukan total dari jati diri; kejahatan dalam berpikir haruslah di padukan
kedalam emosi positif agar menghasilkan beberapa hal yang sulit di tebak
keasliannya.
Berbicara tentang arsitektur
adalah berbicara tentang proses, bukan hasil dari pencapaian. Arsitektur
bukanlah ilmu tentang kepastian kenikmatan namun ilmu yang terus bergerak ke
depan bahkan semakin mengenyangkan imajinasi. Arsitektur tidak hanya berbicara
tentang bangunan, namun semua segi harus di telusuri demi menemukan jenis-jenis
baru bahkan analogi-analogi yang terukur dan tentu dapat di pertanggung
jawabkan.
Bila aku berbicara tentang kebudayaan maka, bagaimana aku dapat menguraikan dan berkarakter kebudayaan? Aku harus mempelajari adat, bahasa, cara hidup, alam, disamping itu keaslian suku, keunikan bersosial harus menjadi referensi yang baku. Sebab dengan hal-hal tersebut maka, tak ada kerugian dari para penikmat hasil karya (masyarakat). Manusia akan senang bila merasa senang, tak ada yang sebaliknya. Manusia akan merasa puas apabila semua tuntutannya di kabulkan, arsitek harus memuaskan semua masyarakat dengan penjelasan yang beranalogi kemanusiaan dalam merancang sebuah karya. Makna analogi bukanlah salah satu pemutarbalikan fakta demi pengakuan masyarakat, tetapi pendekatan tanpa merugikan semua hal dari masyarakat, artinya arsitek rugi demi “keabadian karya” dan masyarakat untung demi ”terwujudnya sarana” bagi tujuan-tujuan tertentu.
Aku takut memprotes hal-hal
yang belum aku pahami sebab itu sama halnya dengan aku tak percaya sesuatu
meski aku mau mengetahuinya oleh karena aku belum pernah mengalaminya (melihat,
mendengar, mengecap, mencium, dan merasakannya). Aku harus melanjutkan semua
hal meski aku belum melewati sesuai jalur atau alur, aku harus melompat meski
aku belum menjejakkan tapakku di pijakan pertama, sebab ini teori tentang
dunia. Semua hal dapat kita lompati tanpa melewati aturan, sebab kita dapat
menciptakan aturan sendiri bagi tujuan lompatan kita. Namun kalau sudah
terhambat atau pun merasa tak sanggup lagi berarti anda akan merasa bahwa ada
yang lebih besar dari anda, maksudnya adalah anda harus menyadari bahwa ada
Pencipta atau Tuhan yang punya segalanya.
Minggu, 05 Februari 2012
Jacques Derrida (bapak dekonstruksi)
Jacques Derrida (lahir di El Biar, Aljazair, 15 Juli 1930 - meninggal di Paris, Prancis, 8 Oktober 2004 pada umur 74 tahun) adalah seorang filsuf Perancis yang dianggap sebagai pengusung tema dekonstruksi di dalam filsafat postmodern.[1] Pemikirannya juga disampaikan melalui filsafat bahasa. Christopher Norris dalam tulisannya yang berjudul Derrida (1987) berasumsi bahwa filosofi Derrida utamanya tentang Tulisan.[1]
Daftar isi |
Riwayat Hidup
Jacques Derrida lahir di Aljazair pada tangggal 15 Juli 1930.[1] Pada tahun 1949 ia berpindah ke Perancis, di mana ia tinggal sampai akhir hayatnya.[1] Ia mengajar di École Normale Supérieure di Paris.[1] Orang tuanya yang bernama Aimé Derrida dan Georgette Sultana Esther Safar, menikah pada tahun 1923 dan pindah ke St.Agustinus di Aljazair pada tahun 1925.[1] Pada tahun yang sama Rene Derrida (anak Aimé dan Georgette) lahir dan empat tahun kemudian Paul Derrida (adik Rene) lahir.[1] Namun tiga bulan kemudian Paul meninggal.[1] Pada tahun 1930 Jackie Derrida lahir.[1] Di kemudian hari ia menyebut dirinya "Jacques".[1] Sepanjang hidupnya ia curiga bahwa ia hanya menjadi pengganti atau pelengkap ketiadaan Paul, kakaknya.[1] Derrida adalah seorang keturunan Yahudi.[1] Ia pernah mendapat gelar doctor honoris causa di Universitas Cambridge.[1] Pada tanggal 9 Oktober 2004, ia meninggal dunia di usia 74 tahun karena penyakit kanker.[1]Pemikiran
Derrida sangat dipengaruhi oleh filsuf Edmund Husserl dan ahli bahasa Ferdinand de Saussure.[1] Buku pertama Derrida adalah menerjemahkan karya Husserl yang berjudul The Origin of Geometry.[1] Di dalam bukunya yang berjudul Of Grammatology, Derrida menyampaikan pandangannya terhadap pemikiran Saussure mengenai definisi bahasa.[1] Ia mengatakan bahwa Saussure memberikan esensi manusia kepada bahasa.[1] Logosentrisme dan fonosentrisme adalah paham yang berusaha dikritik Derrida.[1] Menurutnya kelemahan logosentrisme adalah menghapus dimensi material bahasa, dan kelemahan fonosentrisme adalah menomorduakan tulisan karena memprioritaskan ucapan.[1]Dekonstruksi
Derrida menjelaskan dekonstruksi dengan kalimat negasi.[2] Menurutnya dekonstruksi bukan suatu analisis dan bukan kritik, bukan suatu metode, bukan aksi maupun operasi.[2] Singkatnya, dekonstruksi bukanlah suatu alat penyelesaian dari “suatu subjek individual atau kolektif yang berinisiatif dan menerapkannya pada suatu objek, teks, atau tema tertentu”. [2] Dekonstruksi adalah suatu peristiwa yang tidak menunggu pertimbangan, kesadaran, atau organisasi dari suatu subjek, atau bahkan modernitas.[2] Derrida mengadaptasi kata dekonstruksi dari kata destruksi dalam pemikiran Heidegger.[3] Kata dekonstruksi bukan secara langsung terkait dengan kata destruksi melainkan terkait kata analisis yang secara etimologis berarti "untuk menunda"-sinonim dengan kata men-dekonstruksi.[3] Terdapat tiga poin penting dalam dekonstruksi Derrida, yaitu: pertama, dekonstruksi, seperti halnya perubahan terjadi terus-menerus, dan ini terjadi dengan cara yang berbeda untuk mempertahankan kehidupan; kedua, dekonstruksi terjadi dari dalam sistem-sistem yang hidup, termasuk bahasa dan teks; ketiga, dekonstruksi bukan suatu kata, alat, atau teknik yang digunakan dalam suatu kerja setelah fakta dan tanpa suatu subyek interpretasi.[2]Différance
Derrida menunjukkan kelemahan dari ucapan untuk mengungungkapkan makna dengan menggunakan kata différance.[2] Differance berasal dari kata difference yang mencakup tiga pengertian, yaitu:[4]- to differ-- untuk membedakan, atau tidak sama sifat dasarnya;
- differe (Latin)-- untuk menyebarkan, mengedarkan;
- to defer-- untuk menunda.
Pshyche
Pada tahun 1987 Derrida mengeluarkan kumpulan esainya dalam teks yang berjudul Pshyche.[1] Dasar dari risalat ini adalah untuk menyatakan seberapa besar kemungkinan untuk membicarakan (yang Lain).[1] Menurut Derrida, sikap yang tepat terhadap (yang Lain) adalah menunggu, menginginkan, dan bersiap bagi masa depan, yaitu dari mana (yang lain) itu berasal.[1] (Yang Lain) tidak berasal dari masa kini.[1] Untuk menjelaskan mengenai sikap menunggu dan bersiap, Derrida kembali mengutip dari tulisan sebelumnya yang berjudul structure dan Sign and Play.[1] (Yang Lain) itu datang sebagai bencana, tidak peduli baik atau buruk, kedatangannya akan terlalu asing untuk dihasilkan oleh realita.[1]Khora
Khora adalah salah satu tulisan Derrida yang ditulis untuk memperingati Jean-Pierre Vernant, sejarawan strukturalis dari Yunani.[1] Khora adalah suatu kata yang muncul dalam tulisan yang berjudul Timaeus, salah satu bagian dari tulisan trilogi Plato yang berjudul The Republic.[1] Kata ini dikaitkan dengan bagian yang membahas kosmologi dan asal dari alam semesta.[1] Makna khora menurut Plato adalah tempat yang kosong yang tidak dapat berisi, namun memiliki kecenderungan untuk memiliki isi.[1]Karya-karya penting
Karya-karya penting Jacques Derrida :- La voix et le phenomène (1967)
- L'écriture et la différance (1967)
- De la grammatologie (1967)
- Marges de la philosophie (1972)
- Glas (1974)
- Éperons: les styles de Nietzsche (1978)
- De l'esprit: Heidegger et la question (1987)
- Spectres de Marx (1993)
- Force de loi (1994)
- Voyous (2003)
Referensi
- ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac ad (Inggris) Jason Powell. 2006. Jacques Derrida: A Biography. London: Continuum. 50, 11, 149, 158.
- ^ a b c d e f g (Inggris)Dawne McCance. 2009. Derrida on Religion: Thinker of Difference. London: Equinox Publshing. Hlm 22
- ^ a b (Inggris)Jacques Derrida. 2000. Dissemination. London: The Athlone Press. Hlm xiv
- ^ a b c d (Inggris)Vincent B. Leitch. 1983. Deconstructive Criticism: an Advance Introduction. New York: Columbia University Press. Hlm. 41
- ^ a b c d (Indonesia) Benny H. Hoed. 'Derrida VS Strukturalisme De Saussure' dalam Majalah BASIS No.11- 12, November-Desember 2007. 27.
Langganan:
Postingan (Atom)