Laman

Jumat, 24 Februari 2012

Proses Arsitektur ‘Chard’ (Pro + Ars + Cha)

Jangan terperangah dengan bentuk sebab bentuk tak selamanya menentukan isi. Tampilan belum selalu membenarkan kepuasan. Apa yang keluar dari otak adalah sesuatu yang tak pernah sama dari detik ke detik. Jangan pernah menganggap kejahatan berpikir sebagai kebusukan total dari jati diri; kejahatan dalam berpikir haruslah di padukan kedalam emosi positif agar menghasilkan beberapa hal yang sulit di tebak keasliannya.

Berbicara tentang arsitektur adalah berbicara tentang proses, bukan hasil dari pencapaian. Arsitektur bukanlah ilmu tentang kepastian kenikmatan namun ilmu yang terus bergerak ke depan bahkan semakin mengenyangkan imajinasi. Arsitektur tidak hanya berbicara tentang bangunan, namun semua segi harus di telusuri demi menemukan jenis-jenis baru bahkan analogi-analogi yang terukur dan tentu dapat di pertanggung jawabkan. 

Bila aku berbicara tentang kebudayaan maka, bagaimana aku dapat menguraikan dan berkarakter kebudayaan? Aku harus mempelajari adat, bahasa, cara hidup, alam, disamping itu keaslian suku, keunikan bersosial harus menjadi referensi yang baku. Sebab dengan hal-hal tersebut maka, tak ada kerugian dari para penikmat hasil karya (masyarakat). Manusia akan senang bila merasa senang, tak ada yang sebaliknya. Manusia akan merasa puas apabila semua tuntutannya di kabulkan, arsitek harus memuaskan semua masyarakat dengan penjelasan yang beranalogi kemanusiaan dalam merancang sebuah karya. Makna analogi bukanlah salah satu pemutarbalikan fakta demi pengakuan masyarakat, tetapi pendekatan tanpa merugikan semua hal dari masyarakat, artinya arsitek rugi demi “keabadian karya” dan masyarakat untung demi ”terwujudnya sarana” bagi tujuan-tujuan tertentu. 

Aku takut memprotes hal-hal yang belum aku pahami sebab itu sama halnya dengan aku tak percaya sesuatu meski aku mau mengetahuinya oleh karena aku belum pernah mengalaminya (melihat, mendengar, mengecap, mencium, dan merasakannya). Aku harus melanjutkan semua hal meski aku belum melewati sesuai jalur atau alur, aku harus melompat meski aku belum menjejakkan tapakku di pijakan pertama, sebab ini teori tentang dunia. Semua hal dapat kita lompati tanpa melewati aturan, sebab kita dapat menciptakan aturan sendiri bagi tujuan lompatan kita. Namun kalau sudah terhambat atau pun merasa tak sanggup lagi berarti anda akan merasa bahwa ada yang lebih besar dari anda, maksudnya adalah anda harus menyadari bahwa ada Pencipta atau Tuhan yang punya segalanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar